Ngalap Barokah Perspektif Struggle of Classes Theory Karl Marx
DOI:
https://doi.org/10.38102/9a6p0c91Keywords:
Ngalap Barokah, Perspektif, Struggle of Classes Theory Karl MarxAbstract
Abstrak: Ngalap barokah sering terdengar di masyarakat khususnya di dunia pesantren. Istilah ini dipopulerkan oleh alumni pesantren yang berada di tengah masyarakat. Ngalap barokah diartikan mencari, menarik, ingin mendapatkan berkah dari seseorang atau tempat yang diyakini mempunyai barokah. Praktik ngalap barokah merupakan fenomena keagamaan yang sering menjurus pada titik berlebihan sehingga ada kemiripan dengan praktik perbudakan. Ngalap barokah yang semula tujuan dan pengertiannya baik, justeru bergeser pada pemahaman absolut di mana sebuah sabda dari seseorang yang diyakininya bisa mendatangkan barokah menjadi sebuah kebenaran dan kebaikan tunggal tanpa adanya pemikiran yang kritis. Dampak dari pemahaman ngalap barokah yang dipraktekkan ini membawa konsekuensi kepada munculnya kelas social dalam masyarakat. Para santri terlihat seperti kelas bawah – Marx menyebutnya sebagai kaum proletar - dalam segi hal apapun, mereka harus tunduk dan patuh tanpa adanya dialektika. Sementara para kiai dan keluarganya dianggap sebagai kelas atas – borjuis dalam istilah Marx. Hal ini terlihat jelas dalam lingkungan pesantren yang notabenenya gudang dari teori agama yang meniadakan kelas-kelas social. Penelitian ini membahas tentang pandangan struggle of classes theory Karl Marx terhadap fenomena ngalap barokah yang dijelaskan secara deskriptif analitik. Karena teori Marx ini dianggap ada kesamaan dengan ajaran agama yang menafikan adanya kelas-kelas sosial, sehingga harapannya akan menyadarkan dari berbagai pihak yang terkait agar nalar kritisnya tidak tumpul dan akan berjalan sesuai arahan agama berdasarkan keadilan dan kemanusiaan, serta musyawarah – dialektika. Hasil penelitian ini adalah ngalap barokah dipandang sebagai ajaran Islam selama masih dalam pemahaman bahwa Allah adalah sumber dari barokah. Sedangkan struggle of classes theory berusaha untuk membumikan ajaran agama berdasarkan asas kemanusiaan yang berkeadilan, tanpa menimbulkan ketimpangan social. Fenomena ngalap barokah yang dijelaskan lebih mendekati adanya ketimpangan social menurut teori Marx tersebut. Mereka kaum proletar (santri) dieksploitasi kaum borjuis (dzurriyyah) baik secara fisik, karena kaum borjuis membeli tenaga yang dimiliki kaum proletar dengan harga yang tidak sebanding dengan keuntungan yang didapatnya. Padahal sejatinya yang menjual jasa adalah kaum proletar, namun yang mendapat keuntungan justru kaum borjuis. Kaum borjuis pada umumnya bersikap konservatif, sedangkan kaum proletar bersikap progresif dan revolusioner. Dan kaum borjuis yang telah berkuasa sesungguhnya merupakan kaum proletar yang berhasil lari dari pekerjaan kelas bawah. Dengan kata lain, meskipun sebenarnya jumlah kaum proletar lebih banyak, kekuasaan kaum borjuis tetap lebih besar dan terbilang sulit untuk dikalahkan, mengingat kaum borjuis secara hakiki berkepentingan untuk mempertahankan status quo untuk menentang segala perubahan dalam struktur kekuasaan, bahkan melalui doktrin-doktrin yang bersifat teologis.
Abstrak: Ngalap barokah sering terdengar di masyarakat khususnya di dunia pesantren. Istilah ini dipopulerkan oleh alumni pesantren yang berada di tengah masyarakat. Ngalap barokah diartikan mencari, menarik, ingin mendapatkan berkah dari seseorang atau tempat yang diyakini mempunyai barokah. Praktik ngalap barokah merupakan fenomena keagamaan yang sering menjurus pada titik berlebihan sehingga ada kemiripan dengan praktik perbudakan. Ngalap barokah yang semula tujuan dan pengertiannya baik, justeru bergeser pada pemahaman absolut di mana sebuah sabda dari seseorang yang diyakininya bisa mendatangkan barokah menjadi sebuah kebenaran dan kebaikan tunggal tanpa adanya pemikiran yang kritis. Dampak dari pemahaman ngalap barokah yang dipraktekkan ini membawa konsekuensi kepada munculnya kelas social dalam masyarakat. Para santri terlihat seperti kelas bawah – Marx menyebutnya sebagai kaum proletar - dalam segi hal apapun, mereka harus tunduk dan patuh tanpa adanya dialektika. Sementara para kiai dan keluarganya dianggap sebagai kelas atas – borjuis dalam istilah Marx. Hal ini terlihat jelas dalam lingkungan pesantren yang notabenenya gudang dari teori agama yang meniadakan kelas-kelas social. Penelitian ini membahas tentang pandangan struggle of classes theory Karl Marx terhadap fenomena ngalap barokah yang dijelaskan secara deskriptif analitik. Karena teori Marx ini dianggap ada kesamaan dengan ajaran agama yang menafikan adanya kelas-kelas sosial, sehingga harapannya akan menyadarkan dari berbagai pihak yang terkait agar nalar kritisnya tidak tumpul dan akan berjalan sesuai arahan agama berdasarkan keadilan dan kemanusiaan, serta musyawarah – dialektika. Hasil penelitian ini adalah ngalap barokah dipandang sebagai ajaran Islam selama masih dalam pemahaman bahwa Allah adalah sumber dari barokah. Sedangkan struggle of classes theory berusaha untuk membumikan ajaran agama berdasarkan asas kemanusiaan yang berkeadilan, tanpa menimbulkan ketimpangan social. Fenomena ngalap barokah yang dijelaskan lebih mendekati adanya ketimpangan social menurut teori Marx tersebut. Mereka kaum proletar (santri) dieksploitasi kaum borjuis (dzurriyyah) baik secara fisik, karena kaum borjuis membeli tenaga yang dimiliki kaum proletar dengan harga yang tidak sebanding dengan keuntungan yang didapatnya. Padahal sejatinya yang menjual jasa adalah kaum proletar, namun yang mendapat keuntungan justru kaum borjuis. Kaum borjuis pada umumnya bersikap konservatif, sedangkan kaum proletar bersikap progresif dan revolusioner. Dan kaum borjuis yang telah berkuasa sesungguhnya merupakan kaum proletar yang berhasil lari dari pekerjaan kelas bawah. Dengan kata lain, meskipun sebenarnya jumlah kaum proletar lebih banyak, kekuasaan kaum borjuis tetap lebih besar dan terbilang sulit untuk dikalahkan, mengingat kaum borjuis secara hakiki berkepentingan untuk mempertahankan status quo untuk menentang segala perubahan dalam struktur kekuasaan, bahkan melalui doktrin-doktrin yang bersifat teologis.
